Sabtu, 10 Mei 2008

Kesibukan dan Penyakit

Beberapa hari ini saya merenungkan arti dari sebuah istirahat, ditengah-tengah kesibukan saya sebagai pekerja hampir tidak ada waktu sama sekali bagi saya untuk beristirahat. Karena selain bekerja secara formal di kantor saya juga memiliki bisnis pribadi yang menyita cukup banyak waktu bahkan hingga larut malam bahkan hingga dini hari termasuk hari sabtu/minggu.

Apabila hari minggu memiliki pekerjaan saya lebih mendahulukan ke gereja terlebih dahulu kemudian baru bekerja. Hal ini saya lakukan sejak kuliah kurang lebih semester 2, hampir setiap waktu saya isi dengan segala macam kegiatan terutama pekerjaan2. Kadang sempat terlintas kapan saya istirahat ya, namun ketika saya istirahat sebentar saya seperti orang kehilangan arah (bingung) dan akhirnya kembali mencari kegiatan yang dapat menyibukkan.

Beberapa hari ini, saya kembali proses perawatan dirumah setelah mengalami operasi infeksi usus buntu yang sudah sangat akut. Sebelumnya pada tahun 2006 saya juga pernah beristirahat sehabis operasi perenggangan otot pada anus yang mengalami keteganggan. Hal ini membuat saya berpikir bahwa sepertinya setiap orang akan berhenti beraktifitas setelah penyakit hinggap pada diri kita dan ini kejadian pasti juga berulang entah itu penyakit yang ringan atau berat pasti setiap orang akan terpaksa atau secara halus kata dipaksa istirahat oleh penyakit agar kita isitrahat.

Terkadang istirahat dalam kehidupan kita sebagai pekerja yang aktif sulit dilakukan karena waktu dihitung oleh apa yang kita dapatkan dengan apa yang kita kerjakan dengan kata lain mungkin waktu adalah uang. Namun ketika kita terlalu banyak makan waktu untuk bekerja maka pada saatnya uanglah yang akan kita habiskan untuk 'mengistirahatkan' kita; misal : membeli obat, perawatan rumah sakit, dll. Oleh karena itu mungkin kita harus lebih memperhatikan waktu beristirahat kita pada saat di tengah kesibukan, karena waktu beristirahat adalah 'emas' bagi kehidupan kita di masa mendatang.